
Dalam kesunyian masjid, ada langkah yang tak pernah lelah. Di antara lantunan azan dan dzikir, seorang kakek terus melangkah—bukan sekadar membersihkan debu, tapi menjaga kehormatan tempat suci. Inilah kisah tentang seorang marbot, yang hidupnya menjadi potret nyata dari perjuangan, keikhlasan, serta perpaduan indah antara ikhtiar dan tawakal.
Namanya tak terkenal, wajahnya pun sering luput dari sorotan. Namun setiap subuh ia sudah tiba lebih awal dari jamaah. Sarung menjadi identitasnya, senyum menjadi caranya menyambut dunia. Dengan tubuh renta, ia tetap membersihkan karpet, menyiapkan pengeras suara, dan memastikan air wudhu mengalir.
Meski usianya tak muda lagi, ia tak pernah meminta belas kasihan. “Kalau bukan saya yang bersihkan, siapa lagi?” katanya lirih, sembari mengepel lantai masjid. Upah sebagai marbot tak seberapa, namun baginya ini bukan tentang uang. Ini tentang tanggung jawab kepada sesama dan pengabdian kepada tempat suci.
“Kalau rezeki mah, datangnya dari mana aja. Yang penting usaha dulu,” ucapnya sambil tersenyum. Tawakal bukan berarti diam, tapi menerima hasil dari kerja kerasnya dengan lapang dada. Ketika sakit pun, ia tak ingin menyusahkan. Baginya, rezeki, kesehatan, dan usia—semua telah ditakar.
Ia mungkin tak memiliki gelar tinggi atau pengikut di media sosial, tapi hidupnya adalah pelajaran bagi banyak orang. Kesederhanaannya adalah keteladanan, keikhlasannya adalah kekuatan. Ia menunjukkan bahwa dalam sunyinya tugas yang dianggap remeh, ada kemuliaan besar yang tercipta dari niat baik dan tawakal penuh.
